Belajar dari Banjir dan Longsor di Sumatra: Kesadaran Manusia, Alam, dan Tuhan dalam Perspektif Ekoteologi

Penulis : Andi Miftahul Farid, M.Ec.Dev (Analis Kebijakan Ahli Madya)

Bencana banjir dan longsor yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir tidak dapat dipahami semata-mata sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Di balik genangan air yang merendam permukiman dan longsoran tanah yang menelan rumah serta lahan pertanian, tersimpan pesan penting tentang relasi manusia dengan alam dan Tuhan. Bencana ini seolah menjadi cermin besar yang memantulkan krisis kesadaran manusia modern, krisis ekologis yang berakar pada krisis moral dan spiritual.

Selama beberapa dekade terakhir, alam kerap diperlakukan sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Hutan-hutan di Sumatra yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga kehidupan dibuka secara masif untuk kepentingan ekonomi, baik melalui penebangan liar, alih fungsi lahan, maupun pertambangan. Daerah aliran sungai menyempit dan kehilangan vegetasi penahan air, sementara tanah kehilangan daya ikatnya. Ketika hujan deras datang yang sejatinya merupakan bagian dari siklus alam, banjir dan longsor menjadi tak terelakkan. Dalam konteks ini, menyebutnya sebagai “bencana alam” sering kali menyesatkan, karena mengaburkan peran manusia sebagai penyebab utama kerusakan.

Masalahnya bukan hanya pada tindakan manusia, tetapi juga pada cara pandang yang mendasarinya. Alam diposisikan semata sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai sistem kehidupan yang saling terhubung. Cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa mutlak alam telah melahirkan keserakahan struktural. Ketika keuntungan jangka pendek lebih diutamakan daripada keberlanjutan, maka kerusakan ekologis menjadi harga yang dianggap wajar, meskipun dampaknya harus ditanggung oleh masyarakat luas, terutama kelompok rentan.

Dari sudut pandang keagamaan, situasi ini mencerminkan krisis kesadaran manusia terhadap Tuhan. Hampir semua tradisi agama mengajarkan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan dan manusia diberi amanah untuk menjaganya. Dalam Islam misalnya, manusia disebut sebagai khalifah di bumi, yakni pemelihara dan penjaga bukan perusak. Dalam tradisi Kristen, manusia dipanggil untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi. Ketika alam dirusak secara sistematis, amanah spiritual ini telah diingkari. Bencana pun hadir bukan semata sebagai hukuman, tetapi sebagai peringatan dan konsekuensi dari pengingkaran tersebut.

Di sinilah konsep ekoteologi menemukan relevansinya. Ekoteologi memadukan kesadaran ekologis dan kesadaran teologis, dengan menegaskan bahwa relasi manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan alam. Alam bukan sekadar latar kehidupan manusia, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki nilai intrinsik di hadapan Tuhan. Sungai, hutan, tanah, dan makhluk hidup bukan hanya sumber daya, tetapi juga tanda-tanda kehadiran Ilahi yang patut dihormati.

Melalui perspektif ekoteologi, bencana banjir dan longsor di Sumatra dapat dibaca sebagai krisis relasi: relasi manusia dengan alam yang rusak, dan relasi manusia dengan Tuhan yang terabaikan. Kerusakan ekologis tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan ketidakadilan sosial, keserakahan ekonomi, dan hilangnya etika tanggung jawab. Mereka yang paling terdampak bencana sering kali bukan pihak yang paling menikmati hasil eksploitasi alam.

Oleh karena itu, pembelajaran dari bencana ini tidak boleh berhenti pada penanganan darurat atau pembangunan kembali infrastruktur semata. Yang lebih mendasar adalah transformasi cara berpikir dan cara hidup. Manusia perlu beralih dari paradigma penguasaan menuju paradigma perawatan, dari eksploitasi menuju keberlanjutan. Pembangunan harus berpijak pada keadilan ekologis, menghormati daya dukung alam, dan melibatkan kearifan lokal yang selama ini terbukti lebih selaras dengan lingkungan.

Banjir dan longsor di Sumatra adalah panggilan untuk melakukan pertobatan ekologis, yakni sebuah kesadaran kolektif bahwa merawat alam adalah bagian tak terpisahkan dari ketaatan kepada Tuhan. Ketika manusia kembali menempatkan dirinya sebagai bagian dari ciptaan, bukan penguasa yang sewenang-wenang, harapan akan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan masih dapat diwujudkan. Dari tragedi inilah seharusnya lahir kebijaksanaan baru untuk masa depan yang lebih lestari dan berkeadilan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*